Tugas Ilmu Sosial Dasar 1

Nama : Pandan Wulan Setyaningrum

NPM : 55411490

Kelas : 1IAo9

 

TUGAS

ILMU SOSIAL DASAR

Pemahaman Ilmu Sosial Dasar Dalam Hal Kejujuran di Lingkungan Masyarakat

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI         ……………………………………………………………………………..

BAB I                  : PENDAHULUAN……………………………………………………..

1.1        Latar Belakang………………………………………………………………….

1.2        Maksud  dan Tujuan………………………………………………………….

1.3        Masalah………………………………………………………………………….

BAB II         : ISI…………………………………………………………………………..

2.1         Teori Dari Berbagai Sumber………………………………………………..

2.2           Studi Kasus…………………………………………………………………………

2.3         Pembahasan………………………………………………………………………

BAB  III         : PENUTUP………………………………………………………………….

3.1         Simpulan……………………………………………………………………………

3.2         Saran………………………………………………………………………………..

3.3         Daftar Pustaka…………………………………………………………………….

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

 

      Setiap masyarakat menginginkan kehidupan yang bersih, baik aman dan tentram. Salah satu hal yang dapat terwujud dari impian tersebut apabila kita mempunyai sifat jujur dalam kehidupan masyarakat.

      Pemahaman Ilmu Sosial Dasar (ISD) dalam hal kejujuran memang masih dikatakan sangat minim di masyarakat Indonesia. Banyak warga yang tidak memahami arti kejujuran. Di zaman seperti ini kejujuran menjadi hal nomor kesekian sehingga banyak warga menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan. Padahal jika kita bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari banyak manfaat yang dapat kita petik dari perilaku jujur.

 

1.2       Maksud dan Tujuan

            Maksud dari penulisan ilmiah ini adalah membuat masyarakat paham dan lebih mengenal arti kejujuran dengan dilandasi Ilmu Sosial Dasar dalam kehidupan bermasyarakat.

            Adapun tujuan dari penulisan ilmiah ini adalah :

  1. 1.    Mengetahui cara agar masyarakat sadar dalam pemahaman kejujuran di kehidupan sehari-hari
  2. 2.    Memahami konsep serta pemikiran akan kejujuran serta manfaat apabila bersikap jujur.

 

1.2    Perumusan Masalah

 

Pengertian ilmu sosial dasar (ISD)

Ilmu sosial dasar (ISD) merupakan suatu ilmu pengetahuan dasar yang mempelajari atau menelaah tentang kehidupan sosial manusia secara luas dan berkembang baik interaksi antar sesama manusia atau manusia dengan lingkungan. Ilmu sosial dasar dapat kita wujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan berbagai pengertian baik konsep, fakta, teori yang berasal dari cakupan berbagai bidang ilmu pengetahuan dalam kehidupan sosial dan masyarakat.

 

Pemahaman ISD dalam hal kejujuran di masyarakat.

 

Definisi  Jujur

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) jujur berarti lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus dan ikhlas.

Pengertian lain jujur dapat diartikan sebagai sifat mengatakan atau mengakui suatu kebenaran yang sesuai dengan kenyataan atau fakta tanpa dilandasi kebohongan untuk menutupi hal tersebut. Jujur merupakan sifat manusia yang mulia karena jujur akan membawa kebaikan walaupun terkadang sakit untuk kita lakukan.

Kejujuran dalam masyarakat sangat perlu diterapkan dilingkungan masyarakat karena bagaimana kita membentuk suatu masyarakat yang baik, aman dan tenteram apabila kejujuran tidak diterapkan dikehidupan masyarakat. Walaupun memang tidak mudah membentuk suatu masyarakat yang dapat berperilaku jujur. Dengan pemahaman Ilmu Sosial Dasar mengenai kejujuran masyarakat Indonesia dapat menerapkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat harus mengetahui dan paham tentang konsep perilaku jujur serta manfaat berperilaku jujur.

Pemerintah selaku tokoh masyarakat harus menerapkan konsep kejujuran dalam kehidupan sehari-hari agar masyarakat dapat mencontoh perilaku kejujuran yang diterapkan dalam Negara Kesatuan republik Indonesia. Tetapi dalam prakteknya kejujuran masih tergolong langka dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Pemerintah masih banyak yang menyelewengkan dana serta menyalahgunakan peraturan hukum di negara ini. Masih ada kecurangan-kecurangan yang merebak di lingkungan masyarakat. Bahkan, kita dapat dihukum hanya karena berkata jujur. Sementara mereka yang tidak berperilaku jujur tetap dibiarkan begitu saja bahkan mendapat segala fasilitas dan keuntungan. Apakah salah jika kita berperilaku jujur? Mengapa sifat jujur masih minim dilingkungan masyarakat kita?

 

 

 

BAB II

ISI

1.1      Teori-teori dari Berbagai Sumber Tentang Kejujuran :

 

 Menurut kamus Poerwadarminta  jujur berarti lurus hati dan tidak curang.

 

Kejujuran dibidang pendidikan :

Pakar pendidikan H.G. Wells, dalam bukunya The Catastrope of Education, (2005). mengatakan “rusaknya moral dan tumpulnya  etika sosial masyarakat tidak dapat tidak karena semakin suburnya praktek anomali di sekolah, sebagai salah satu sebab kemungkinan”.   Tesis  H.G. Wells didorong oleh makin pudarnya etika sosial di masyarakat, makin melembaganya praktek kekerasan dalam dunia pendidikan. H.G. Wells, menuduh sebagai biangkeroknya adalah lembaga pendidikan sekolah. Menurutnya lembaga pendidikan sekolah  tidak membawa manfaat terhadap perbaikan moral dan etika sosial siswa yang seharusnya  lembaga pendidikan sekolah sebagai lembaga persemaian nilai-nilai kebaikan dan menolak segala bentuk anomali.

Kalau saja tuduhan H.G. Wells itu benar, maka kita tidak perlu sakit hati atau mengatakan sia-sialah guru-guru kita mengajarkan anak-anak kita di sekolah, karena toh pada akhirnya pendidikan menghasilkan manusia bermentalitas tidak jujur.

 

Kejujuran di Lingkungan Masyarakat :

Menurut Tim Fasilitator Soft Skills Ditjen Dikti Dr. Ir. G. Suprayitno, M.M., masyarakat jujur adalah yang anggotanya berani menyampaikan sesuatu sesuai dengan kenyataan. Kejujuran memungkinkan seseorang untuk melakukan evaluasi diri dengan baik karena berani mengakui kekuarangannya dan siap untuk memperbaikinya

 

    2.2       Studi Kasus

 

  1. A.  Studi Kasus Kejujuran Pertama

Kisah Dompet  yang Hilang, Nilai Sebuah Kejujuran

Ditulis oleh : Andrie Wongso

Jumat, 29 Mei 2009

 

Sebuah pengalaman yang menyentuh saya alami sendiri dua hari yang lalu. Kejujuran, yang merupakan “barang” langka di zaman sekarang, masih saya jumpai di dalam sosok seorang supir taksi sederhana.

Cerita berawal dari jadwal saya untuk berseminar dalam rangka undangan dari BCA Kanwil XI di Balikpapan, pada hari Rabu, 27 Mei 2009. Seminar dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 siang itu. Saya sudah tiba di sana dua jam sebelumnya. Saya berkesempatan bertemu dan meluangkan waktu bersama seorang teman, Bapak Boge. Beliau mengajak saya untuk makan siang di restoran miliknya, sebuah restoran ayam goreng terkenal, Boyolali. Saya langsung menyetujuinya.

Karena supir Pak Boge hanya mengantar beliau ke hotel tempat saya menginap, Hotel Menara Bahtera, dan langsung pergi mengurus kepentingan yang lain, kami pun pergi ke restoran dengan naik taksi. Jadwal seminar yang akan berlangsung tidak lama lagi, membuat saya harus langsung kembali ke hotel setelah makan siang, dan bersiap-siap.

Namun, saat hendak memulai seminar, saya baru menyadari, dompet saya hilang! Kepanikan melanda saya. Maklum, kartu identitas dan beberapa kartu kredit ada di dalamnya, dan tidak sedikit uang yang tersimpan di dalamnya. Staf keamanan hotel ikut membantu mencari, dan mencoba menghubungi supir taksi yang tadi mengantar saya ke restoran. Karena, siapa tahu dompet saya terjatuh di dalam taksi. Bahkan Pak Boge juga ikut membantu. Tak terkecuali Bapak Harijanto, Kakanwil BCA wilayah XI, langsung membantu memblokir kartu kredit BCA saya, untuk mejaga agar kartu kredit saya tidak disalahgunakan

Dengan konsentrasi penuh pada topik yang saya bawakan, seminar pun berlangsung dengan seharusnya, lancar dan penuh semangat. Saat jeda istirahat, di dalam lubuk hati yang terdalam, tiba-tiba muncul perasaan yang mengatakan bahwa dompet saya akan kembali dalam keadaan utuh. Perasaan itu timbul begitu saja, yang sempat saya utarakan kepada asisten saya yang mendampingi waktu itu, David. Dan, memang benar itu terjadi!

Telah berulang kali saya buktikan, dengan keyakinan yang teguh, apa pun yang Anda harapkan, bisa terwujud! Supir taksi yang tadi mengantar saya dan Pak Boge ke restoran, sudah menunggu saya saat seminar selesai. Ia pun menyerahkan dompet saya, masih dalam keadaan utuh, tidak ada kekurangan apa pun.

Mengalirlah sebuah cerita yang menyentuh dari mulutnya. Katanya, seorang penumpang setelah saya, menemukan dompet itu dan langsung menyerahkan kepadanya. Si supir pun tanpa pikir panjang, datang ke tempat saya untuk mengembalikan dompet itu. Saya benar-benar merasa takjub dengan kejujuran yang dimiliki supir taksi, juga penumpang yang menemukan dompet tersebut.

Sebagai tanda terima kasih dan penghargaan atas sebuah kejujuran dan kebaikan yang telah dilakukannya, saya pun memberikan supir taksi itu sejumlah uang, juga kepada para staf kemanan yang telah membantu. Dengan harapan, semoga ke depannya, perbuatan baik akan selalu dilakukan.

Dari sini kita tahu, semua hal yang terjadi dalam kehidupan ini tersambung dalam sebuah mata rantai. Apa yang selama ini selalu saya utarakan dalam seminar-seminar, bahwa sudah sepatutnya kita selalu berbuat baik, telah saya temukan contoh nyatanya. Saya telah mendapatkan pertolongan dari seorang supir taksi yang baik hati. Karena saya sadar, bisa saja dia mengaku tidak menemukan dompet saya, dan tidak mengembalikannya kepada saya. Atau, mungkinkah juga keyakinan saya yang begitu kuat, mendorong hal itu terjadi.

Apa pun teori di balik peristiwa ini, pastilah ada pembelajaran yang bisa kita ambil. Di mana, butuh kehati-hatian dalam menyimpan barang milik kita sendiri, menjaganya agar tidak hilang. Di mana sebuah kejujuran sangatlah indah untuk dilakukan dan patut dihargai. Dan, di mana kekuatan pikiran benar-benar bekerja saat Anda meyakini sesuatu hal dengan sungguh-sungguh. Dan ingatlah selalu, dengan senantiasa melakukan perbuatan baik dan membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan, Tuhan juga akan membantu kita dengan caraNya.

 

Studi Kasus Kejujuran Kedua

Budayakan Antikorupsi dengan Kantin Kejujuran

Kamis, 10 Desember 2009

MADIUN – Upaya pemberantasan korupsi di negeri ini, tidak hanya dalam aspek hukum semata, melainkan juga pembentukan moral. Budaya malu ditumbuhkan jika melakukan perbuatan yang tidak jujur untuk mengeruk keuntungan pribadi. 

Pembentukan moral yang menjunjung tinggi kejujuran harus dikenalkan sejak usia dini, seperti yang dilakukan di SMP Negeri 7, Kota Madiun, Jawa Timur. Sekolah itu memiliki cara sederhana untuk memberi keteladanan bersikap jujur itu. Yakni, dengan Kantin Kejujuran.

Tempatnya sederhana dengan menjual jajanan mulai bakso, siomay, batagor, mie goreng, kue basah, dan kering aneka macam.

Seperti namanya, disediakan dua kotak tertulis “uang pembelian” dan “uang pengembalian”. Pada jam istirahat, siswa siswi berbaju putih dan biru, langsung menyerbu kantin. Tak ada yang berbuat curang, mengambil pengembalian secara berlebih, atau mengambil kue atau uang yang bukan haknya.

 

1.1    Pembahasan

Dari dua studi kasus diatas kita dapat memetik bahwa kejujuran sangatlah  indah karena selain membersihkan diri kejujuran dapat membantu orang lain apabila kita melandasi dengan tulus dan ikhlas.

Manfaat berperilaku jujur bagi kehidupan bagi diri sendiri :

1. Memperoleh kepercayaan masyarakat.

2. Dapatkan harga diri.

3. mengurangi stres dalam hidup Anda.

4. Menggunakan penilaian yang lebih baik.

5. Meningkatkan jumlah hubungan kepada semua orang.

6. Rasa percaya diri Anda akan meningkat.

 

Manfaat Apabila Kita Menerapkan Perilaku Jujur dalam Kehidupan Masyarakat :

  1. Tidak dikucilkan karena mendapatkan kepercayaan dari lingkungan masyarakat.

2. Hidup tentram antar masyarakat.

3. Korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak akan tumbuh dilingkungan masyarakat.

4. Aturan akan berjalan sesuai dengan hukum yang diterapkan.

 

Membina Masyarakat Berperilaku Jujur

Bagaimana caranya untuk meningkatkan sikap jujur dalam setiap pribadi masyarakat? Tentunya ini bukan suatu hal yang mudah. Namun, hal-hal kecil dapat dilakukan demi menciptakan efek yang besar. Sebagai contoh, Kantin kejujuran merupakan upaya untuk mendidik sikap siswa agar berperilaku jujur. Kantin kejujuran adalah kantin yang menjual makanan kecil dan minuman, tapi tidak memiliki penjual dan tidak dijaga. Makanan atau minuman dipajang dalam etalase dan di atas etalase tersedia kotak uang yang berfungsi sebagai penampung pembayaran dari siswa yang membeli makanan atau minuman. Bila ada kembalian, siswa mengambil dan menghitung sendiri uang kembalian dari dalam kotak tersebut.

Di kantin ini, kesadaran siswa  berbelanja dengan membayar dan mengambil uang kembalian jika memang berlebih, tanpa harus diawasi oleh guru atau pegawai kantin. Kantin Kejujuran merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pendidikan antikorupsi. Ini merupakan langkah sederhana untuk menumbuhkan rasa jujur di setiap anak-anak bangsa agar tidak terpengaruh perilaku korupsi.  Korupsi yang telah mewabah dan tumbuh telah mengakibatkan kesengsaraan rakyat yang berkepanjangan, bahkan rnenghambat kemajuan bangsa dan negara.

Tanpa kejujuran, praktik korupsi, kolusi, nepotisme, dan segala bentuk manipulasi lainnya akan tetap tumbuh di negeri ini. Untuk itu, Kantin Kejujuran yang merupakan pendidikan antikorupsi perlu diterapkan sebagai upaya prefentif bagi generasi muda. Namun, pelaksanaan Kantin Kejujuran ini pun akan sukses dengan dukungan bersama dari warga sekolah. Anak-anak inilah yang kemudian akan menjadi generasi penerus bangsa yang diharapkan terbiasa dengan kejujuran. Dengan demikian, masyarakat yang jujur pun akan tercapai.

 

 BAB  III

PENUTUP

 

3.1 Simpulan

Jujur adalah cermin bersihnya hati dan bentuk keikhlasan serta ketulusan.

Arti kata jujur berarti tidak mau mengambil hak orang lain, atau tidak mau mengambil hak dari yang seharusnya diterima. Ada unsur sabar, ikhlas, dan syukur dalam kejujuran. kejujuran adalah sumber rahmat. Dan saat rahmat dari Tuhan tercurah, apapun akan mudah kita dapat.

 

 

3.2 Daftar Pustaka

1. http://news.okezone.com/read/2009/12/10/340/283563/budayakan-antikorupsi-dengan-kantin-kejujuran

2. http://www.diknas-padang.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=23&artid=240

3. http://www.pendidikan-diy.go.id/?view=v_artikel&id=3

4. Riwayati, Hadiyah. 2009. Pengembangan Kantin Kejujuran Dalam Rangka Pendidikan Antikorupsi di Sekolah Dasar Negeri Bertaraf Internasional (SDN BI) Tlogowaru Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Program Studi PPkn, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. A Rosyid Al-Atok, M.Pd., MH. (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M.Si.

5.  http://fauzanalrasyid.blogspot.com/

 

 

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s